Ismail Puji Bunaken, Tapi…

Preface

Namanya Ismail Ningz. Satu dari sedikit pengusaha muda di Indonesia yang mencintai laut
Writter

Tribun Manado Sharing Community

Share on Twitter Share on Facebook Share on Linkedin Share on Email
news photo

Jumat siang. Dua hari lalu di laut tak jauh dari Pulai Lembeh, Kota Bitung. Ismail melompat dari Superyacht Grace Alone Ferreti 112 Thalyssa, menyeburkan diri ke laut.

Menyelam. Tanpa alat, hanya badan yang dibalut celana pendek ketat. Cukup lama. Baru dia menyembul ke permukaan. Wajahnya ceria. Lalu naik kembali ke kapal pesiar yang berbendera Inggris yang ia kelola. Membilas diri, ganti pakaian, celana pendek dan baju pantai.

Ketua Umum Gabungan Usaha Wisata Bahari dan Tirta ini mengoleksi tiga kapal pesiar mewah. Semuanya dia pilih sendiri, dia lihat dan teliti sendiri, barulah ditebusnya.

Pria kelahiran Jakarta, 30 October 1968 ini pun mengajak tamunya yang diboyong oleh Lippo Homes Monaco Bay, yang ada di atas kapal pesiar berbanderol 15 juta dollar AS itu diskusi tentang masa depan wisata bahari di Indonesia.

Kalimat pembuka diskusi pun meluncur dari Head of Corporate Communication Lippo Karawaci Danang Kamayan Jati. Dalam diskusi yang menghadirkan narasumber tunggal, Ismail Ningz itu juga dihadiri Associate Director Lippo Homes Monaco Bay, Bambang Sumargono dan Head Lippo Group Area Sulawesi Utara Diana Kawatu.

Danang sedikit mengulas sosok Ismail Ningz yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di tengah laut, khususnya Labuan Bajo dan Raja Ambat, menemani turis asing. DIa kemudian meminta Ismail menceritakan pengalaman berikut pemikirannya tentang masa depan wisata bahari, terlebih Ismail selalu menjadi perwakilan Indonesia di event-event dunia kelautan.

"Saya senang (Presiden) Jokowi memilih menteri gaya koboi (Menko Kemaritiman Rizal Ramli). Kita ini kaya, semua indah, namun sayang, banyak orang kecewa karena regulasi yang mengganggu turis asing spending uangnya di laut kita," ujar Ismail mengawali diskusi.

Selain masalah regulasi, Ismail melihat infrastruktur yang ada tidak mendukung, misal saja Marina atau pelabuhan. Menurut dia, sebenarnya simple, bikin dermaga dari kayu yang cantik dan jaga kebersihan lingkungan, itu sudah membuat turis betah dan akan membagi pengalaman indahnya saat pulang ke negaranya.

"Jangan kemudian pulang ke negaranya malah cerita yang buruk-buruk, misalnya sampah di Bunaken. Sangat disayangkan," katanya. Dia menjelaskan, Bunaken adalah ekspetasi destinasi para turis. Namun karena tidak ada fasilitas dan terjaga, akhirnya banyak ditinggalkan.

"Sekarang ada Raja Ampat dan Labuan Bajo. Tapi di sana fasilitas seperti bandara kan belum memadai. Coba kalau Bunaken, bandara (Sam-ratulangi) kan internasional, ada penerbangan direct Singapura," ungkapnya.

Bunaken adalah masa depan wisata bahari bagi Manado. Apalagi, lanjut dia, jika pembangunan Monaco Bay integrated dengan Marina, jelas itu sangat menguntungkan.