NEWS
Penulis : Hilda B Alexander | Kamis, 6 Maret 2014 | 14:04 WIB | READ FROM SOURCE
Lippo "Jamah" Manado

Manado sangat potensial, sebagai kota berbasis perdagangan. Infrastruktur sudah terbangun dengan cukup baik. Selain itu, dekat dengan destinasi wisata yang dikenal luas secara internasiolan yakni Taman Nasional Bunaken.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yang sudah menggarap Indonesia Bagian Timur sejak dua tahun terakhir, semakin intensif mengembangkan bisnisnya. Setelah melansir megaproyek St Moritz Makassar, Sulawesi Selatan, senilai Rp 3,5 triliun pada 2013 lalu, tahun ini Lippo berencana mengembangkan proyek serupa di Manado, Sulawesi Utara.

Di Manado LPKR menggarap dua proyek sekaligus, yakni St Moritz Manado di kawasan Kairagi, dan Blue Banter di pusat kota, tepatnya Jl Boulevard. Kedua proyek berkonsep mixed use development ini akan terdiri dari apartemen, pusat belanja, dan rumah sakit.

"Nilai proyek St Moritz Manado sekitar Rp 1,8 triliun. Sementara Blue Banter masih kami hitung," ujar Corporate Secretary LPKR, Danang Kemayanjati kepada Kompas.com, Kamis (6/3/2014).

LPKR mengincar Manado, lanjut Danang, karena kota ini punya banyak potensi pasar yang belum dikembangkan secara maksimal. Para pengembang yang sudah lebih dahulu masuk hanya berkonsentrasi di sektor permukiman, sementara sektor properti komersial masih merupakan "barang baru".

Chief Marketing Officer Lippo Homes, Jopy Rusli, menambahkan, ekspansi LPKR ke Manado adalah sebagai bagian dari strategi korporat untuk memberikan keuntungan kepada stake holder, para pembeli dan pemegang saham.

"Harga lahan di Manado masih murah dan kami membangun dengan memberikan nilai tambah (added value)," tegas Jopy.

Dia melanjutkan, Manado sangat potensial sebagai kota berbasis perdagangan. Infrastruktur di kota ini sudah terbangun dengan cukup baik. Selain itu, Manado terbilang dekat dengan destinasi wisata yang dikenal luas secara internasional, yakni Taman Nasional Bunaken.

Untuk diketahui, LPKR saat ini mencatat kapitalisasi pasar senilai 1,9 miliar dollar AS atau ekuivalen dengan Rp 21,7 triliun per 28 Februari 2014.